Bandung Selatan sudah menjadi langganan banjir setiap tiba musim hujan. Kapan hal itu akan berakhir? Tampaknya tidak akan segera berakhir. Pemerintah belum menemukan solusi yang implementable, terutama dikaitkan dengan sumber dana yang diperlukan untuk menyelesaikannya. Silakan perhatikan kutipan berita berikut ini:
BANDUNG, (PR).-
Belum ada solusi final bagi masalah banjir tahunan di cekungan Bandung. Pemerintah dan masyarakat dihadapkan pada dua pilihan yang sama sulit. Di satu sisi, pembangunan waduk-waduk membutuhkan biaya luar biasa besar, di lain sisi usaha konversi lahan kering di daerah hulu mensyaratkan waktu yang lama, minimal 10 tahun.
Hal itu mengemuka dalam dialog terbuka di Dinas Pusat Sumber Daya Air (PSDA), Jln. Braga Bandung, Jumat (25/4). Dalam dialog yang diprakarsai Pemprov Jabar itu, hadir sebagai pembicara Kadis PSDA Iding Srihadi dan Yadi Suryadi dari Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI) Cabang Bandung.
Iding menjelaskan, berdasarkan berbagai observasi dan penelitian, PSDA yakin pembangunan waduk-waduk dapat efektif mengatasi banjir tahunan di Bandung Selatan. Ada tujuh titik tempat pembangunan waduk yang disarankan PSDA. Keberadaan waduk tersebut, asal dilakukan secara serentak, mampu menurunkan hingga 37% debit air puncak 285 m3/detik. “Jika satu waduk rata-rata menghabiskan Rp 100 miliar, berarti butuh Rp 700 miliar untuk membangun semua waduk,” ujarnya.
Menurut dia, dana itu belum termasuk untuk pemangkasan ataupun pembuatan jalan pintas di Curug Jompong. Diperkirakan, sekitar Rp 500 miliar harus dipersiapkan untuk projek tersebut. Dengan tanjakan setinggi 648 m di atas permukaan air laut (dpl), sedangkan Waduk Saguling 643 m dpl, Curug Jompong yang tepat berada di kelokan tajam diduga menghambat laju air dari hulu.
Konversi lahan kosong
Sementara Yadi Suryadi menilai, apa pun bentuk projek yang terkait Curug Jompong harus diperhitungkan secara matang apakah akan bermanfaat benar bagi penanganan banjir. Berdasarkan simulasi hidrograf, penurunan elevasi Curug Jompong hingga 5 meter pun tidak akan memberikan pengaruh signifikan bagi pengurangan cakupan banjir. Genangan memang berkurang di beberapa tempat, tetapi tidak akan lebih dari 6,2 km ke arah hulu.
Menurut Iding, jalan keluar terbaik tetaplah konversi lahan kosong di daerah aliran sungai, baik yang berwujud semak belukar ataupun tanaman sayuran yang tidak mampu menangkap air. Dia mencatat, setidaknya ada 438,9 km2 lahan yang dapat dikonversi dengan potensi penurunan debit air puncak hingga 58,32 persen.
“Idealnya sih usaha konversi tata lahan di DAS hulu ini dibarengi dengan pembuatan waduk,” kata Yadi seraya menambahkan, penurunan debit air puncak diperkirakan mencapai 65%. (CA-165)***
Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=20394
bandung banjir…di malang pun banjir akhir2 ini….
anehka? daerah datran tinggi pun bisa kebanjiran…
Dulu waktu saya kecil, Bandung masih bersih, tidak semrawut lalu lintasnya, tidak pernah dengar berita banjir di Bandung dari harian PR atau TVRI. Setiap pagi masih bisa menikmati kabut walau tinggal di pusat kota.
Sekarang? Bandung kota sampah, lalu lintas macet di mana-mana. Malah katanya pencemaran timbal sudah sedemikian parahnya sampai-sampai dikhawatirkan generasi berikutnya dari masyarakat Bandung bakal menurut tingkat kecerdasannya. Banjir malah sudah jadi pemandangan “wajar” di jalan-jalan protokol di daerah Bandung Utara saat hujan lebat. Aneh memang… di Bandung Utara yang notabene daerah tinggi kok banjir. Kalau daerah Bandung Selatan seperti Dayeuh Kolot mengalami Banjir, baru saya tidak heran.
Kalau musim hujan, jalan-jalan di Bandung bakal bolong-bolong di sana-sini. Kalau musim panas, jalan-jalan di Bandung diperbaiki (jadi lahan proyek bagi kontraktor yang kebagian proyek). Dari waktu ke waktu begitu terus kejadiannya. Kok kesannya sengaja dikondisikan begitu ya?
Salah satu penyebab banjir lain (disamping penggundulan resapan air di utara sana) adalah , sayang sekali, kebiasaan buruk masyarakat , yaitu MEMBUANG SAMPAH DI MANAPUN MEREKA BERADA dan dimanapun mereka suka! Sangat menyedihkan lagi, bayak kaum yang mengaku terpelajar melakukannya dengan sangat sadar, misalnya membuang bungkus permen, bungkus rokok, puntung rokok, kulit buah dan lain-lain lewat kaca mobil bagus mereka. Bukan cuma itu, di kampus/kantor, para dosen/pegawai sekalipun masih membuang puntung rokok semaunya. Padahal kalau mau berjalan sedikit mencari asbak atau tempat sampah ……..
Kenapa rokok dan bungkus makanan yang jadi contoh? Bila untuk hal “sekecil” itu pun mereka tidak mampu atau tidak mau, saya yakin untuk hal yang (lebih) besar pun dijamin ceroboh, seenaknya! Bagaimana dengan masyarakat lain yang bisanya hanya mencontoh? Ada satu kesimpulan dari kebiasaan buruk orang-orang yang saya maksud di atas, yaitu mereka akan buang sampah dimanapun asal tidak di halaman mereka sendiri! Sungguh sangat egois! Saluran air kotor isinya bukan air (kotor), tapi tempat sampah. Kemana airnya? ya ke permukaan atuuh! Lapangan Supratman yang setiap Jumat dibersihkan oleh tentara selalu dikotori oleh pengguna-pengguna yang lain, yang katanya kaum terdidik, padahal di sekitar lapangan banyak tempat sampah.
Untuk menghilangkan kebiasaan buang sembarangan (bukan meminimalisir!), tinggal law enforcement-nya saja. Sepengetahuan saya sudah ada perda dan regulasi-regulasi yang lain. Masyarakat itu gampang! Bila hukum ditegakkan secara konsisten, percayalah, tidak ada yang berani melanggar di masa depan. Guru-guru TK, SD, SMP, SMA dan orang tua harus memberi contoh daily.