Bandung akan penuh sesak oleh sepeda motor, itu arti judul di atas yang saya tulis dalam Bahasa Sunda.

Kemarin siang saya mengisi solar di pom bensin di Dago atas. Sambil mengisi saya memperhatikan antrian sepeda motor yang sangat panjang sambil mengobrol dengan petugas pom bensin yang sedang pengisi solar untuk Panther saya. Menurut si petugas, antrian seperti ini terjadi tanpa henti sejak pagi sampai kira-kira jam 8 malam. Biasanya puncaknya sekitar jam 5 sore katanya.
Rasanya ini pemandangan umum di setiap pom bensin. Padahal di Bandung ini jumlah pom bensin sudah meningkat cukup banyak, sehingga jarak antar lokasi semakin berdekatan. Saya hanya memikirkan, apakah pemerintah kota Bandung sudah mempunyai langkah-langkah antisipatif untuk mengatasi peningkatan jumlah kendaraan ini, khususnya sepeda motor? Saat ini saja sudah terlalu sering kita dengar keluhan semrawutnya lalu lintas oleh angkot dan sepeda motor yang kurang menghiraukan sopan santun berlalu-lintas.
Bagaimana nanti 5 tahun lagi??? Kalau ingat lagi pengalaman saya di Cina, saya semakin paham, mengapa Cina melarang sepeda motor di seluruh kota-kota besar di Cina. Mungkin sudah kehabisan akal untuk mencari solusi yang efektif.
Anda punya solusi?
Hihihi, saya termasuk pengendara motor kang, meemang kota Bandung dengan jarak antar jalan pendek dan terlalu banyak jalan yang panjang, sangat efisien jika menaiki sepeda motor. memang jika melihat trennya sekarang faktor kenaikan harga BBM sehingga banyak orang beralih ke sepeda motor
Wah ini mah pom bensin langganan saya pak !!
kalau saya memandang dari sisi mengapa orang tertarik pada sepeda motor.
1. dekatnya jarak tempuhan
2. efektivitas waktu jika dibandingkan dengan naik angkutan
3. cost, karena naik angkot lebih mahal dengan layanan yang kurang sepadan
4. motor lebih fleksibel
5. kurang sipnya layanan dari transportasi masal
untuk saya pribadi, ujung-ujungnya sih kalau pakai motor bisa hemat lebih dari 150 ribu rupiah perbulannya pak. Itu alasan saya pakai motor, disamping penghematan waktu. Pakai motor hanya butuh waktu kurang dari 1 jam dari rumah ke kantor, sedangkan pakai angkutan bisa sampai 2 jam, bahkan lebih. 1 jam terbuang percuma.
2 jam perhari, 50 jam perminggu, 200 jam perbulan, … pertahun, dst. terbuang dengan percuma (bagi saya).
Sebenarnya indonesia bisa melakukan hal tersebut, solusi ini selain dapat mengurangi kemacetan dikarenakan padatnya lalu lintas karena sepeda motor, juga secara tidak langsung memberi solusi untuk mengurangi pemanasan global, polusi dan penghematan bahan bakar yang selama ini dikonsumsi oleh pengguna sepeda motor.
Akan tetapi selain menjadi solusi bagi hal-hal yang saya sebutkan diatas, hal tersebut memunculkan sebuah pemasalahan baru, dikarenakan adanya larangan “sepeda motor di seluruh kota-kota besar” tentu saja hal ini akan menurunkan jumlah produksi produsen sepeda motor di indonesia, dengan menurunnya produksi tentu saja akan diiringi pengurangan tenaga kerja, sehingga akan menimbulkan permasalahan baru yaitu : berkurangnya tenaga kerja. akan tetapi hal tersebut bukan tidak ada solusinya. Dengan adanya larangan “sepeda motor di seluruh kota-kota besar” tentu saja para bikers akan menggunakan traansportasi lain, misalnya mobil dan transportasi masa seperti : KRL dan Bis Kota. Dalam hal ini saya rasa perlu campur tangan pemerintah untuk menyediakan transportasi masa seperti : KRL dan Bis Kota yang NYAMAN, MURAH serta AMAN. Dan tentu saja hal ini akan menyedot lapangan kerja baru juga.
Mungkin itu opini dari saya, pak Arry. Mungkin pak Arry mau menambahkan / mengkritik balik ?
Salam
pramudyaputrautama.wordpress.com
Kalau saya pribadi untuk sementara belum concern terhadap jumlah sepeda motor (karena menyangkut kemampuan standar untuk memiliki alat transportasi pribadi bagi masyarakat), yang saya cermati adalah perilaku berlalu lintas beberapa oknum pengendara motor yang kadang mengganggu/membahayakan orang lain.
Benang merah-nya: benahi perilaku berlalu lintas didukung kebijakan/peraturan yang komprehensif.
Pelarangan sepeda motor saat ini masih relevan dan efektif untuk jalan tol serta pengaturan sepeda motor khusus untuk fly over yang panjang dan padat dengan kendaraan kecepatan tinggi perlu dibuatkan separator/jalur tersendiri untuk motor/sepeda.
Saya sendiri kadang ngeri melihat manuver oknum pengemudi motor yang kadang berada di bagian tengah/sebelah kanan jalan di sekitar jembatan Pasopati Bandung (belum lagi di sana lampu jalannya tidak berfungsi saat malam tiba alias 1/4 gelap alias remang-remang pantulan sinar neonsign iklan di sisi pinggirnya).
Salam dari mantan murid Pak Arry juga dan juga pesepeda motor (khusus untuk jarak pendek he2x)
kalo betrix gimana pa?
Pakai sepeda ke kantor. Sehat!
Mengurangi polusi pula.
Lebih aman (selama kendaraan bermotor lain dikurangi).
Untung saya pak gak bisa pake motor, coba klo bisa pake motor nanti tambah ngaheurin nan kota bandung.
Lebih baik pake sepeda kali yah udah sehat dan murah meriah lagi gak pake bensin lagi.
Solusinya seperti biasa pak, perpajakan. Sepeda motor harus dikenakan pajak yang cukup tinggi, dan tentunya juga tarif parkir cukup tinggi juga. Selain itu, perlu diperkenalkan juga tarif pajak lingkungan untuk polutannya.
Dengan demikian, orang akan cenderung pindah ke angkutan umum, atau sepeda kayuh, atau sepeda listrik.