Saya adalah orang Sunda dan masih bisa menggunakan bahasa Sunda untuk kebutuhan komunikasi sehari-hari dengan benar. Banyak orang Sunda segenerasi saya sudah tidak bisa menggunakan bahasa Sunda dengan baik dan benar. Bahasa Sunda memang unik. Dalam bahasa Sunda (Jawa juga), ada variasi kata kerja (VERB) yang bentuknya tidak beraturan, dan penggunaanya tergantung dari hirarki subjeknya. Contoh:
Indonesia: Ayah makan -> Sunda: Bapa tuang
Indonesia: Saya makan -> Sunda: abdi neda
Indonesia: Ayah pergi -> Sunda: Bapa angkat
Indonesia: Saya pergi -> Sunda: abdi mios
Banyak orang Sunda se-generasi saya (kepala 4), sudah tidak bisa memilih penggunaan kata kerja tersebut dengan benar, sehingga keluarlah kalimat-kalimat seperti “Bu, abdi angkat!“, seharusnya “abdi mios“.
Ok, saya bukan mau mengajarkan bahasa Sunda, hanya memberikan ilustrasi kondisi pengguna bahasa Sunda saat ini. Kelihatannya ini gejala umum. Kadang kami punya pembantu di rumah yang berasal dari berbagai tempat di Jawa Barat. Pada umumnya sudah tidak dapat menggunakan bahasa Sunda dengan benar. Memang kini semakin banyak keluarga yang menggunakan bahasa Indonesia untuk komunikasi di rumah, sehingga bahasa Sunda semakin tidak digunakan.
Untungnya, sekolah-sekolah (terutama SD) masih mengajarkan Bahasa Sunda di sekolah, sehingga ada suatu harapan untuk mengerem kecepatan punahnya bahasa ini. Namun, jangankan orang tua yang bukan orang Sunda, sayapun sering kebingungan membantu mengerjakan PR sekolah anak saya untuk pelajaran bahasa Sunda. Tapi, di lain pihak, setelah anak-anak itu lulus (mendapat nilai yang baik) dari mata pelajaran tersebut selama beberapa semester, hampir tidak ada kemampuan komunikasi Bahasa Sunda yang benar yang melekat pada mereka.
Sepengamatan saya, terlalu banyak materi yang diajarkan dalam pelajaran Bahasa Sunda. Banyaknya materi menyebabkan kurangnya waktu untuk membangun kemampuan berkomunikasi dengan baik menggunakan bahasa Sunda. Menurut saya, sebaiknya materinya dipangkas banyak dan berikan bobot yang lebih banyak pada kemampuan berkomunikasi dengan benar.
Bagaimana menurut anda?
tapi masih ada yang membanggakan apabila saya pulang kampung, yaitu ketika saya salah dalam mengucapkan karena terbalik untuk sendiri , orang lain , lebih muda, lebih tua sentak sodara atau orang tua saya mengkoreksinya
mudah-mudahan bahasa sunda yang kaya akan undak-usuk basa tidak punah
Pak AAA, saya malah ingin tanya.
Kenapa kadang-kadang banyak yang salah baca
“formula” dengan “pormula”?
Apa ada hubungannya dengan basa SUnda?
Nuhun.
Sudah cukup lama juga saya tinggal di Jawa Barat, tapi tetep nggak bisa berbahasa sunda yang baik dan benar. Apalagi kalau baca tulisan di blok Pak Braja (http://galuhkiwari.wordpress.com/), mumet he he he
Iya.. setuju berat pak… saya setuju dengan bapak yang mengatakan bahwa jauh lebih baik menerapkan bahasa sunda dalam kehidupan sehari hari daripada mempelajari seluruh mata pelajaran bahasa sunda yang rumit..
terus terang, saya orang sunda saja tidak banyak menggunakan bahasa sunda yang baik. padahal contoh dirumah ada (ibu ang masih menggunakan undak usuk basa sunda yang cukup baik). generasi baru cenderung untuk menggunakan bahasa sunda kasar baik kepada yang lebih muda ataupun kepada yang lebih tua.
Saya harap pendidikan bahasa sunda bisa lebih ke terapan bukan ke teori..
Ok, mari kita lihat-lihat kepada siapa ini bisa kita serukan. Kalau banyak komentar yang setuju, saya coba jadikan artikel di Koran Pikiran Rakyat.
@apiq
Penyakit ‘ep’ jadi ‘pe’ atau ‘pe’ jadi ‘ep’ itu menular lho. Bener! Beberapa orang di kantor mulai ketularan. Gara-gara pak Asef
Setuju juga pak.. Walaupun ayah&ibuku adalah ‘pendatang’, tapi aku dari lahir sudah berada di bandung, di tatar sunda. Sampai sekarang yang aku sedikit bisa hanyalah bahasa sunda yang kasar. Aku mungkin bisa mengatakan, bahasa inggrisku jauh lebih baik daripada penguasaan bahasa sundaku. Tidakkah seharusnya, dengan pendidikan bahasa sunda yang kuterima dari SD sampai SLTP dulu, aku bisa sedikit menguasai bahasa sunda?
Setuju juga Pak….saya termasuk yang kesulitan juga mengerti pelajaran Basa Sunda anak saya….mungkin karena pelajaran Basa unda sulit diterapkan di komunikasi sehari-hari, anak-anak jadi males juga belajar basa sunda, kenapa pelajaran basa sunda ga dibikin fun seperti pelajaran Bahasa Inggris yaaa….
Saya waktu kuliah di Bandung pengin belajar basa sunda. Celakanya, kebanyakan teman sekelas malah dari Jawa. Jadinya bahasa sehari-hari tetep basa Jawa. jadi bisanya cuman ‘kumaha damang’ aja heheeh
oya pak, mungkin perlu digalakkan komunitas online dengan bahasa daerah. saya dan temen2 mencoba buat multi-author blog di WP sbg media kami menulis dalam bahasa Jawa ( kawruhjawi.wordpress.com ).
awalnya kaku juga nulis dikit2. malah temen2 sering ketawa sendiri karena ternyata kalimat2nya yang kita tulis kadang jadi lucu, tapi cukup asik juga apalagi ini kan warisan budaya yg adiluhung
mungkin kalo ada komunitas2 kayak gini dan digalakkan anak2 sekolah utk ngeblog bareng dg basa daerah (mungkin lebih seru dengan blog yg multi-author). supaya bahasa2 daerah kita ini tidak punah…
iya, pak setuju hal2 kayak gini untuk dipublikasi. saya sedang menulis juga untuk koran lokal Jogja
ditunggu kabarnya
Siip, terima kasih ide dan sharenya. Saya coba mulai dengan membuat kategori tulisan berbahasa Sunda. Semoga ada yang mau baca…..
… atau bagaimana kalau ada sesi conf (YM misalnya)… dg audionya untuk saling sambung (mungkin dg satu tema tiap minggunya)…. dgn bpk arry sbg hostnya….
@auvaintan, saya belum berani commit untuk jadual teratur, takut ingkar janji …. terima kasih atas semangatnya untuk memajukan bahasa Sunda, saya mikir dulu, langkah efektif apa yang bisa kita lakukan ….
Sim kuring oge urang sunda asli mung di na perkawis ngagunakeun basa sunda nu nyumponan kaedah undak usuk basa kirang paos. Di na obrolan sadidinten seueur pisan kecap oge kalimah nu teu saluyu sareng undak usuk basa, lepat ngalarapkeun.
Kaleresan pisan atuh aya inohong Bapa Ari nu bade ngawitan ngadamel artikel ku basa Sunda. Mangga Pa diantos artikelna.
Kumaha perkawis nami Kabupaten “Bandung Barat” asa teu nyunda, naha kunaon teu nganggo nami “Bandung Kulon”? Naha kirang komersil kitu?
@gajahkurus, panuju, saena mah “Bandung Kulon” wae, langkung nyunda. numutkeun abdi, teu aya aturan anu ngalarang ngagunakeun istilah sapertos “bandung kulon”. upami hoyong gaya mah, kunaon henteu sakantenan wae “west bandung”. Gaya pisan, nya?
perkawis artikel basa Sunda, ke sakedap masih keneh ngumpulkuen kawantun kanggo ngawitannana.
baktos di Bandung Kaler
#11
eh Arief, gening aya di bumi|rorompokna*) Pak Arry? upami Pak Arry uninga|terang*) milis urang anu basa sunda-na paburantak, kumaha tah
*) hayoo coret yang tidak perlu
pa AAA,
saya pernah ditawarkan mamah saya untuk bergabung dengan anggota pasundan istri [hihihihi] pimpinan bu otje djundjunan.
mamah saya selalu menyapa saya dan anak-anak saya [cucu-cucunya] dengan basa sunda. meski anak-anak saya menjawab dengan bahasa indonesia, mamah saya tetap menjawab lagi dengan basa sunda. lucu juga, yang satu berbahasa indonesia, satunya lagi berbasa sunda – tapi tetap bisa berkomunikasi.
sedangkan suami yang sudah 17 tahun di Bandung, ternyata berkomunikasi sunda seadanya [t.e.r.l.a.l.u, 17 tahun gitu loh]. namun kadang belajar basa sunda dengan membaca Mangle, part Carpon-Katurug Katutuh-Nyingraikeun Lalangse Aheng-MuringdingPuringkak jeung sajaba ti eta. lumayan juga nambah2 perbendaharaan kosakata.
btw
kapan Pak Arry masuk Mangle?
kapan Pak Arry bikin speech to text Sunda? – eh atau udah?-
Dian Tresna Nugraha; mahasiswa Bapa ya?
saleresna mah sim kuring masih reueus ku urang sunda sareng ku basa na. cobi weh tingali di luar tatar sunda, seueur basa pribumi kasilih ku basa luar, misalna weh di lampung.
da di kota teh seueur keneh basa jawa di banding basa lampung, tapi di bandung mah alhamdulillah sae keneh.
perkawis pangajaran basa sunda di sakola, sae oge eta pausuluan teh kang, manawi tiasa di bahas langkung apik di media.
mung panginten, anu teu kirang penting teh, suasana di kulawarga dina ngagunakeun basa sunda. da alhamdulillah di lampung, seuer urang sunda masih keneh pengkuh ku basa, janten pami pendak sareng urang sunda deui ge, masih tiasa keneh bari jeung teu pati sapertos di bandung atanapi di ciamis.
@abahoryza, sapertosna memang kedah aya upaya sasarengan di keluarga masing-masing sareng pendidikan basa sunda di sakola. usaha anu sapihak mungkin bakal sesah ngawujudkan perobihan. satuju pisan! mangga ku abdi diemutan, kumaha saena ngegeuing persoalan ieu di media. nuhun pisan!
Sampurasun Kang Aryy, ngiring bingah aya keneh gening anu reuseup sareng ngamumule bahasa sunda nu janten bahasa indung di Tatar Sunda, Insya Alloh upami di puseur dayeuh khususna, masih keneh diangge bahasa sadidinten, teu kedah isin-isin, apanan sok aya urang sunda hemeng kunu ngobrol ku bahasa sundana. Komo deui urang deungeun ngangge bahasa sunda, leuh teuing meni asa jarauh panineungan. Mangga Kang ngiring ngarojong.
Saya fikir, permasalahan bahasa Sunda yang katanya “dalam” keadaan kritis sepertinya harus kita buang. Bukan apa-apa, untuk memberikan sikap optimisme saja pada kita.
Meskipun dalam corak yang baru, toh kita masih bisa melihat secercah harapan akan hidupnya bahasa Sunda.
Contoh yang menarik, TV Lokal berbahasa Sunda. Bagaimana sekarang TV Lokal muncul mencoba menandingi TV Nasional. Hal tersebut memberikan gambaran adanya upaya menandingi, menggantikan, dan itu adalah sebuah “Gairah”. Berbeda dengan jaman jepang, ketika bahasa Sunda dihilangkan di Sekolah, di situ ada upaya “menasionalkan”, tapi dalam kasus TV Lokal, mereka mencoba “melokalkan”.
Kalau di bidang Pendidikan, memang saya rasa kita harus gelisah, justru di sinilah saya fikir bahasa Sunda perlu mendapatkan tempat yang semestinya. Dan tempat yang baik itu saya fikir menjadikan bahasa Sunda sebagai “Bahasa Pengantar” Seluruh mata pelajaran di TK dan Sekolah Dasar. Dengan begitu, para siswa dapat memahami matematika dasar dengan logika bahasa Sunda, bisa memahami sejarah dalam kerangka fikir Sunda. Dengan demikian, bahasa Sunda memeroleh kembali dayanya untuk menjadi bahasa yang ‘peka jaman’.
Tapi ‘ketang’, toh keadaan pemakaian bahasa Sunda yang mulai tidak sesuai kaidah, dsb, bila kita melihat dari distribusi geografis, adalah permasalahan ‘kota’. Karena di desa saya merasakan kalau mereka baik-baik saja.
Coba kita berjalan-jalan sedikit ke daerah Cipada (Kab. Bandung), atau Cihawuk misalnya, baik di rumah maupun di Sekolah mereka menggunakan bahasa Sunda.
Duka Tah…..